HomeSantriMimbarMembawa Tradisi Ramadhan Mengarungi Syawal

Membawa Tradisi Ramadhan Mengarungi Syawal

image_print
Mengarungi Syawal
Mengarungi Syawal

Mengarungi Syawal dengan Penuh Ketaatan – Mimbar Idul Fitri

Mengarungi Syawal – Naskah Khubah Idul Fitri ini berkaitan dengan Membawa Tradisi Ramadhan Mengarungi Syawal.  Sehingga mendapatkan kefitrahan yang didambakan setiap insan
Naskah Khutbah ini berjudul “Membawa Tradisi Ramadhan Mengarungi Syawal dengan Penuh Ketaatan”. Untuk mencetak naskah khutbah Idul Fitri ini, silakan klik ikon PDF saja (bukan icon print), Lalu klik print to pdf dan semoga bermanfaat.

KHUTBAH I

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ، لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Maasyiral Muslimin Muslimat, Jamaah Idul Fitri Rahimakumullah
Suara Gemuruh Takbir mendayuh tak terelakkan, seraya mengingat kebesaran allah yang tak tergantikan. Kebahagiaan dunia akhirat menjadi dambaan setiap insan, maka marilah kita pupuk terus peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan. Dalam arti mendorong penuh kesaksian hati, ketulusan lisan dalam bingkai menjalankan ketaatan allah yang senantiasa diperintahkan. Lalu disertai dengan kesadaran jiwa dan raga dalam menjauhi segala larangan-larangannya. Sehingga predikat muttaqin mudah mudahan allah meridhoi kepada jamaah sholat idul fitri yang mukmin dan solihin. Amin ya rabbal alamin
Ma’asyiral Muslimin Msulimat Jamaah Idul Fitiri rahimakumullah,
Tidak terasa sayup-sayup ramadhan telah usai, tiga puluh hari menajalan ketaatan puasa sebagai layaknya sebuah perisai. Kesabaran, pantangan dan tantangan silih berganti dihadapi dengan imanan wah tisaban, sebagai bekal mendapatkan fitri yang penuh dengan kesucian. Mengajarkan kepada manusia akan pentingnya sebuah perjuangan, menjalankan ketaatan dan mudah-mudahan barokah ganjaran serta kesehatan senantiasa allah limpahkan dalam sebuah perlindungan.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Kalau ingin kembali pada fitrah, sempurnakan jumlah hari puasamu. Makna sempurnakan ini ada 2 yaitu : sempurnakan satu bulan penuh dan sempurnakan semangat puasamu. Walaupun ramadhan berakhir, puasa jangan selesai, kenapa? Tangan kita masih tetap puasa dari mengambil yang bukan milik kita, lidah kita tetap berpuasa memfitnah dan menggunjing orang lain. Kaki kita tetap berpuasa, dari berjalan ke tempat-tempat yang menimbulkan dosa. Perut kita pun demikian tetap berpuasa dari kemasukan barang haram serta subhat yang bukan milik kita. Kedisiplinan, kejujuran, rasa kasih sayang yang menjadi nilai-nilai puasa tetap harus kita lestarikan di bulan-bulan lainnya, sebagai bagian dari petikan pembelajaran yang berharga di bulan ramadhan yang penuh dengan keridhoannya. Jangan sampai keimanan kita hanya sebatas lisan saja namun sekuler dalam perbuatan. Tetapi rasa akan senantiasa diawasi oleh allah perlu kita yakinkan, agar degradasi moral kemaksiatan insyaallah akan terus terkikiskan.

Maasyiral Muslimin Muslimat, Jamaah Idul Fitri Rahimakumullah…………….

Bulan puasa telah kita lewati pada tahun ini, namun tidak ada garansi kita akan dipertemukan kembali dengan ramadhan di tahun nanti. Lantas, pertanyaan yang relevan kita sematkan pada diri kita adalah “Apakah kita pantas mendapatkan sebuah kemenangan, serta bagaimana mempertahankan kefitrahan manusia sebagai bentuk refleksi dari ibadah puasa yang penuh dengan perjuangan?”. Jangan sampai puasa kita hanya sebatas menahan lapar dan dahaga.

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

yaitu banyak orang yang berpuasa,namun ia tak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar saja.

Sebagai bentuk mempertahankan dan membawa tradisi ramadhan pada bulan-buhlan lainnya yaitu : 1) Mengokohkan Ketauhidan. Ramadhan merupakan sebuah momentum terbaik dalam memperkuat serta mengokohkan kembali keimanan seseorang. Melalui sebuah ibadah-ibadah mahdah yang tujuannya mendidik jiwa-jiwa yang menjauhi-Nya untuk seraya kembali kepada-Nya, mengembalikan kesadaran jiwa yang berlumur dosa untuk seraya meminta ampunan kepada-Nya serta mendorong jiwa-jiwa yang lalai untuk bersimpuh sujud dalam bingkai ketulusan dan mengharap keridhoan-Nya. Karena faktor bertambahnya iman ialah ketaatan. Sedangkan faktor menurunnya iman tak lain dan tak bukan ialah kemaksiatan. Sebagaimana dikatakan ibnu ruslan dalam matan Zubad Ibn Ruslan (Beirut: Daru Makrifat) halaman 5-6:

فكن من الإيمان في مزيد # وفي صــــفاء القلب ذا تجديد
بكثرة الصلاة والطاعات # وترك ما للنفس من شهوات
فشهوة النفس مع الذنوب # موجبتــــــان قسوة القـــلوب

Maka Jadilah kamu bertambah dalam keimanan, dan memiliki kejernihan dalam hati. Dengan memperbanyak sholat dan ketaatan, serta meninggalkan sesuatu yang menyebabkan syahwat Maka nafsu syahway serta dosa, merupakan faktor yang menyebabkan kerasnya hati

2) Menguatkan komitmen keubudiyahan, yaitu dengan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan dalam menjaga sholat fardlu serta sholat sunnah yang biasa dilakukan di bulan suci ramadhan serta sepertihalnya membayar Zakat yang disempurnakan dengan infaq dan sadaqah. Hal ini menandakan bahwa menandakan ritual ubudiyah atau ibadah memiliki dua hal secara integral yaitu formalistik. Artinya kegiatan ibadah secara kasap mata dilakukan sesuai dengan tuntutan sepertihalnya sholat dengan gerakan-gerakannya, namun tetapi tidak cukup hanya sebatas formalistik saja tetapi esensi ubudiyah harus menyentuh pada aspek substansialistik, yaitu adanya pengaruh dari keterlaksanaannya ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-sehari. Dengan menjaga konsistensi ibadah dan menegakkannya secara sempurna semata-mata hanya karena Allah, seorang muslim akan terpelihara fitrah kesuciannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah SWT (Q.S. Al-An’am 162)

Sehingga dengan demikian, kesempurnaan ibadah (ubudiyah) manusia perlu ditopang dengan kuatnya wawasan agama kita. Karena sebuah amal tak akan terpisahkan dengan yang namanya ilmu. Lantas ilmu yang bagaimana menjadi sebuah keharusan untuk dipelajari oleh kita?
Salah satunya dipetik dari perkataan Syekh Zainuddin Al-Malibari di dalam kitab Mandhumatu Hidayatil Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’, lalu kitab tersebut diberikan penejelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam Kitabnya Kifayatul Atqiya’ Wa Minhajul Awliya’, bahwa ada tiga ilmu yang tak boleh ditinggalkan oleh orang mukmin. Diantaranya :

وَتَعلَّمَنْ عِلْمًا يُصَحِّحُ طَاعَةً # وَعَقِيْدَةً وَمُزَكِّيَ الْقَلْبِ اصْقِلاَ

Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan # Ilmu yang mengesahkan aqidah, pelajarilah ilmu juga yang mensucikan hati manusia

هَذِى الثَّلاَثَةُ فَرْضُ عَيْنٍ فَاعْرِفَنْ # وَاعْمَلْ بِهَا تَحْصُلْ نَجَاةً وَاعْتِلاَ

Ketahuilah Ketiganya ini fardlu ain hukumnya # Maka dengan mengamalkannya, maka terwujud keselamatan dan kehormatannya.

Sehingga dengan demikian keniscayaan iman dan taqwa tidak bisa dilalui dengan ajaran agama yang pragmatis saja, melainkan perlu mempunyai niat bahkan tekad yang besar dan luhur untuk mempelajarinya demi kehidupan dunia akhirat yang bersahaja.
Telah Rasulullah sampaikan pada hadist-hadisnya

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّة

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga”

Dengan melaui pengajian-pengajian di surau, musholla bahkan masjid yang berisikan keilmuan wajib tadi disertai dengan adanya cara mempermudah mengetahui ayat-ayat quran, maka insyaallah ketenangan dan rahmat yang akan allah anugerahkan.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat yang melonong serta memudahkan menuntut ilmu dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.

3) Senantiasa menjaga dan memelihara Akhlak yang terpuji. Salah satu hal penting dalam menjaga kefitrahan manusia adalah menjaga sifat atau akhlaq yang terpuji seperti amanah, jujur, senantiasa bersyukur dan keteguhan dalam bersabar. Sabar dalam menjalankan perintah, sabar dalam menjauhi larangan Allah maupun sabar dalam menghadapi ujian, cobaan maupun musibah.
Akhlak terpuji ini timbulnya dari kejernihan hatinya, sehingga apabila seseorang hamba menginginkan ketenangan dalam hidupnya maka peliharalah hatinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amalan kalian. Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian hanyalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa,” (HR. Al-Thabrani)

Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita semua, terlebih jika hati kita telah mendapatkan hidayah dari-Nya serta kita senantiasa dapat mempertahankan tradisi ramadhan ini pada bulan bulan lainnya dengan menjaga 3 hal tadi yaitu senantiasa memperkokoh keimanan kita, menjaga konsistensi ibadah kita serta mampu mewujudkan ibadah kita dalam bentuk Akhlak akhlak yang terpuji. Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، ونَفَعِني وإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوُ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أمَّا بَعْدُ فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ ياَرَبَّ الْعلَمِيْن
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Sejenak Bersama Gus Imdad Rabbani

Imdad Rabbani
S3 Manajemen Pendidikan Islam UIN Maulana Malik Ibrahim MalangPendidikan Non-Formal : - Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo - Pondok Pesantren Anwarul Huda - Madin Nurul HudaAktivitas : - Content Creator Pendidikan - Penulis - Konsultan Manajemen Pendidikan dan Teknologi Pendidikan - Akademisi - Muallim Majlis Ta'lim Jauharatul Ulum Malang - Ketua Yayasan Al-Abror Mimbaan Situbondo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest articles